Jujur, ini pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri sendiri. Tabungan sendiri dan ngurus segala macam keperluannya sendiri. Apalagi, saya tidak pernah ke Singapur setelah sekitar 15 tahun! Waktu terakhir ke sini, saya saja masih belum bisa membedakan mana kiri dan mana kanan. Jadi saya datang ke sini dengan modal nekat. Untungnya, ada teman saya yang sekolah dan tinggal di sini sehingga saya bisa mendapat “bimbingan” darinya.
With this post, I hereby stated that my Trip to Singapore notes will not be written in English anymore. From now on, it will be in Bahasa Indonesia!
Kenapa tiba-tiba berubah? Sebenarnya alasannya gampang saja: biar lebih lancar numpahin ceritanya! Buat saya, memakai Bahasa Inggris mungkin tidak terlalu sulit (sombong sedikit), tetapi terkadang ada beberapa bahasa atau ekspresi yang agak tertahan karena suka sulit mencari padu padan katanya. Kalau memakai Bahasa Indonesia, yang notabene adalah bahasa ibu saya (untung bukan bahasa kakek, bisa-bisa pakai Bahasa Belanda!), jadi akan jauh lebih lancar dan lebih tertuang inti-inti ceritanya.
Jadi, mari kita lanjutkan menulis cerita Perjalanan ke Singapur!
For those who have tried flying with this low cost airline, you would know how narrow the space between each rows is. We couldn’t complain much for we pay it in a lower price, right? It’s like riding a flying DAMRI bus! Once you’re seated next to the window, do not expect that you can go easily to the lavatory passing the other passengers. Luckily, I got the seat next to the aisle so I won’t have to struggle to get into it. But then, the flight took only about one a half hour so why bother going to the lavatory? Except you have problems with your bladder, you can actually do it in the airport.
Have you ever had a feeling or even a believe, when you sit in the passenger seat next to the driver, you have to (if not must) accompany the driver all along the way? Well, I do! Call me old fashioned, but I do believe that many people would feel the same. Go on, raise your hand! This happen to me all the time. While driving with my family, friends, or even in a shuttle (or travel) service. Thus, I kind of demanding the same thing while others drive with me.
Back to the story on why did I do this trip. As I said before that my campus had this field trip to Singapore and one of the committee asked me to be an MC in one of the visits to a university here, in Singapore. I said OK because I thought it would be an international experience by holding an event abroad! But then, I have no other friends from my class and I have to pay four million rupiah for a four day trip, so I decided buy a ticket on my own. I got no discount from the committee while I will actually be “working” there! Anyway, I got a ticket for a full week trip for only a million rupiah! Can you see how much the differences are?
So here I am, in an airplane flying to Singapore (I was writing this entry during my flight in a notebook before I post it here. Yes, hand-written one). I decided to go on this trip thanks to the committee of my campus’s field trip. I was asked to be an MC for one of the visits to a university during their stay here, in Singapore. I said OK, but then I realized that I don’t even get any privilege or a discount! So I bought a ticket on my own and decided to do this alone.
During this trip, which I called as a “pleasure-seeking-yet-reflective-trip”, I will write down a so-called “diary”. My motivation is simple: to share it with other people. Things I would write include: food reviews, place reviews, interesting events, and last but not least, a reflection or lessons to learn. these things would no doubt cover my whole trip.
Oh, one more thing, I will write them down presumably in English so I could practice my written English. I will also write it in form of stories (not an all-reflecting-thoughts-from-myself story) or chapters. Well, not exactly chapters, but maybe in sub-chapters. Or simply I will put it in numbers.
So here goes my first story!
Hari ini rencananya kelompok KKN kita mau main ke pantai. Menurut warga sekitar sih memang pantainya nggak bagus-bagus amat, tapi setidaknya ada pasir dan ombak, that’s fine buat gue. Katanya lagi, pantai yang paling deket itu di Eretan. Ada sih, pantai di daerah Balongan, tapi harus beberapa kali ganti angkot. Akhirnya kita ke pantai di Eretan yang terkenal dengan nama “erla” atau “eretan laut”.
Sampai di “erla”, setelah naek ELF selama +/- 40 menit dan Rp 5.000,-, kita rada kecewa! Soalnya si pantainya itu gak ada pasirnya! Langsung ke laut lepas dan ada lumpurnya. Pokoknya.. TETTOOT..!!! Akhirnya kita memutuskan buat nangkring makan kelapa muda, eh, tua, terus makan siang di rumah makan yang ada di situ.
Rumah makan “Ikan Bakar Laut Eretan” ini sistemnya kayak rumah makan “sederhana” yang ada di Batu Karas sana. Jadi beli ikannya per kilo terus minta dimasakin deh! Ikan yang kita beli itu ada bawal, etong, sama cumi-cumi. Ikan bawal sama etong-nya dibakar terus cuminya di goreng tepung sama saus tiram. Eh, gue pesen cah kangkung juga! Walaupun dikerubungin juga sama anak-anak….
Rasanya? Enyaaaaaakk…!!! :9
Si cumi goreng tepungnya biasa aja, tapi yang menurut gue cukup enak adalah cumi saus tiramnya. Jadi si cuminya juga ikutan digoreng tepung, tapi terus disiram sama sausnya yang enyak! Biasanya kan cuminya ditumis dengan bumbu kalo di kaki lima. Terus di atasnya dikasih kayak serutan wortel dan daun bawang gitu.
Buat ikan bakarnya, yang bawal sama etong itu kayaknya sih sama bumbunya. Pokoknya kayak pake bumbu kuning dulu sebelom dioles kecap pas dibakar. Kita juga dapet sambel sama jeruk nipis buat cocolannya, tapi lebih mantap kalo pake kecap juga.
Yang rada unik lagi adalah cah kangkungnya. Cah kangkungnya sangat berkuah, kental, dan pretelannya banyak banget! Ada sosis, bakso, jamur, sama SEBUTIR telur puyuh. Rasanya agak pedes, tapi enyaaaak..!!
Masalah harga, karena jualnya per kilo, jadi musiman dan nggak menentu stoknya. Tadi sih, cumi itu Rp 60.000,-/ kg tapi kalo dimasak nambah Rp 10.000,-/ kg-nya. Ikan bawal itu Rp 60.000,-/ kg dan ikan etong Rp 35.000,-/ kg. Yang ini karena nggak dimasak (cuman dibakar), jadi nggak ada ongkos masaknya. Cah kangkung itu Rp 15.000,-. Pokoknya tadi karena makan rame-rame, seorang jatohnya cuman bayar Rp 17.000,- aja, udah termasuk nasi Rp 3.500,-.
Overall buat tempat, rasa, dan harga gue kasih nilai 7 dari 10. Rasanya enak, sampe gue ngabisin kepala ikannya! Jarang-jarang gue makan kepala ikan. Finger-licking good! Sayangnya, dari segi tempat agak pas-pasan, jadi kurang mendukung. Walaupun begitu, it’s a good place to eat.