Pandya’s GoBlog!
trying to tell the world how fun it is to live!

Nov
25

Jujur, ini pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri sendiri. Tabungan sendiri dan ngurus segala macam keperluannya sendiri. Apalagi, saya tidak pernah ke Singapur setelah sekitar 15 tahun! Waktu terakhir ke sini, saya saja masih belum bisa membedakan mana kiri dan mana kanan. Jadi saya datang ke sini dengan modal nekat. Untungnya, ada teman saya yang sekolah dan tinggal di sini sehingga saya bisa mendapat “bimbingan” darinya.

Baca entri selengkapnya »

Nov
25

With this post, I hereby stated that my Trip to Singapore notes will not be written in English anymore. From now on, it will be in Bahasa Indonesia!

Kenapa tiba-tiba berubah? Sebenarnya alasannya gampang saja: biar lebih lancar numpahin ceritanya! Buat saya, memakai Bahasa Inggris mungkin tidak terlalu sulit (sombong sedikit), tetapi terkadang ada beberapa bahasa atau ekspresi yang agak tertahan karena suka sulit mencari padu padan katanya. Kalau memakai Bahasa Indonesia, yang notabene adalah bahasa ibu saya (untung bukan bahasa kakek, bisa-bisa pakai Bahasa Belanda!), jadi akan jauh lebih lancar dan lebih tertuang inti-inti ceritanya.

Jadi, mari kita lanjutkan menulis cerita Perjalanan ke Singapur!

Nov
24

For those who have tried flying with this low cost airline, you would know how narrow the space between each rows is. We couldn’t complain much for we pay it in a lower price, right? It’s like riding a flying DAMRI bus! Once you’re seated next to the window, do not expect that you can go easily to the lavatory passing the other passengers. Luckily, I got the seat next to the aisle so I won’t have to struggle to get into it. But then, the flight took only about one a half hour so why bother going to the lavatory? Except you have problems with your bladder, you can actually do it in the airport.

Baca entri selengkapnya »

Nov
23

Have you ever had a feeling or even a believe, when you sit in the passenger seat next to the driver, you have to (if not must) accompany the driver all along the way? Well, I do! Call me old fashioned, but I do believe that many people would feel the same. Go on, raise your hand! This happen to me all the time. While driving with my family, friends, or even in a shuttle (or travel) service. Thus, I kind of demanding the same thing while others drive with me.

Baca entri selengkapnya »

Nov
23

Back to the story on why did I do this trip. As I said before that my campus had this field trip to Singapore and one of the committee asked me to be an MC in one of the visits to a university here, in Singapore. I said OK because I thought it would be an international experience by holding an event abroad! But then, I have no other friends from my class and I have to pay four million rupiah for a four day trip, so I decided buy a ticket on my own. I got no discount from the committee while I will actually be “working” there! Anyway, I got a ticket for a full week trip for only a million rupiah! Can you see how much the differences are?

Baca entri selengkapnya »

Nov
23

So here I am, in an airplane flying to Singapore (I was writing this entry during my flight in a notebook before I post it here. Yes, hand-written one). I decided to go on this trip thanks to the committee of my campus’s field trip. I was asked to be an MC for one of the visits to a university during their stay here, in Singapore. I said OK, but then I realized that I don’t even get any privilege or a discount! So I bought a ticket on my own and decided to do this alone.

During this trip, which I called as a “pleasure-seeking-yet-reflective-trip”, I will write down a so-called “diary”. My motivation is simple: to share it with other people. Things I would write include: food reviews, place reviews, interesting events, and last but not least, a reflection or lessons to learn. these things would no doubt cover my whole trip.

Oh, one more thing, I will write them down presumably in English so I could practice my written English. I will also write it in form of stories (not an all-reflecting-thoughts-from-myself story) or chapters. Well, not exactly chapters, but maybe in sub-chapters. Or simply I will put it in numbers.

So here goes my first story!

Jan
19

Lagi-lagi posting telat gara-gara nginput data buat profil desa di blog yang dilombakan nantinya. Biarin lah! Yang penting nge-post.

Jadi hari ketiga kemarin itu diisi dengan mengunjungi rumah warga buat mencari informasi mengenai “masalah yang sering dihadapi warga desa”. Kelompok kami membagi diri ke beberapa kelompok kecil yang anggotanya 3-4 orang. Tugas dari kelompok kecil ini adalah untuk mengunjungi minimal 5 rumah warga untuk sampling agar bisa mengetahui gambaran umum masalah yang terjadi. Jadi kita mewawancara warga mengenai beberapa aspek, seperti kesehatan, kehidupan ekonomi, kebersihan, birokrasi pejabat desa, dsb. Gue kebetulan kebagian kelompoknya sama citra dan mus-mus. Kelompok gue kebagian sampling ke RT 001 sama RT 002 yang di RW 001.

Tujuan pertama adalah Pak RT 001 dulu buat minta izin kalau kita mau masuk ke rumah-rumah warga, tapi ternyata Pak RT-nya lagi ke Balai Desa. Akhirnya, ya udah lah yaaaa, langsung aja tancap ke rumah warga! Daerah RT 001 sendiri kalau yang gue lihat “terpisah” antara yang di pinggir jalan raya dan yang di dalam gang. Sebenernya sih nggak cuman RT 001 aja, RT 002 pun gitu. Ada sedikit kesan bahwa warga yang tinggal di pinggir jalan cenderung lebih berpendidikan dan berkecukupan dibanding yang tinggal di dalam gang. Ini bisa dilihat dari kondisi rumahnya yang cenderung jauh lebih layak dan hasil observasi serta wawancara yang gue lakukan sendiri.

Pulang dari sampling, kita makan siang di rumah pake pepes ikan. Jujur, gue paling males kalau harus makan ikan, soalnya males mikirin duri-duri kecilnya itu. Pas gue “terpaksa” nyobain pepesnya, ternyata si ibu yang masakin kita itu make ikan tenggiri! Jadi tulangnya NGGAK ADA SAMA SEKALI! Rasanya juga enyaaaaak..! Seneng banget gue sama pepesnya.

Sore-sore (setelah bangun dari tidur siang yang manis dan lucu), gue, andri, sama indra memutuskan untuk jalan-jalan sore daripada bengong doang! Si andri ngajak jalan ke bendungan karet dan gue setuju! Penasaran aja, soalnya cuman denger cerita, jadi mau lihat langsung ke TKP. bendungan ini Bendungan Karet Rambatan namanya.

Bendungan karet ini, sesuai namanya, terbuat dari karet. Awalnya gue bingung, mana karetnya?? Jelas-jelas beton semua. Eh, ternyata karet itu buat “pintu air”-nya. Bendungan konvensional yang kita kenal selama ini kan biasanya memakai sistem pintu air, macam di Manggarai atau Katulampa, tapi di sini pake karet itu. Katanya sistem menutup “pintu”-nya pakai pompa, jadi pompa dipakai buat ngisi semacam wadah supaya ngedorong karetnya naik dan menghambat air untuk keluar. Gue sendiri sih belum lihat kalau pintunya ditutup, tapi itu menurut warga. Bendungan ini katanya dirancang oleh arsitek dari Belanda dan udah berdiri cukup lama.

Pas di sana, gue nggak tahu apakah ada yang janjian atau nggak, tapi tiba-tiba si alex muncul! Gue kaget soalnya kan perginya cuman bertiga. Oh, iya! Di sana juga ada semacam “tugu” atau “monumen” kecil yang bertuliskan:
“Disinilah tempat para pejuang kemerdekaan mempertaruhkan jiwa demi tegaknya kemerdekaan pada tanggal 17-8-1945″
Gue rada kaget soalnya monumen ini, udah ketutupan rumput alang-alang gitu. Nggak terawat sama sekali! Pas gue berusaha mendekat, bahkan ada kuburan di depannya ternyata! Sumpah, nggak ada nilai historisnya lagi! Kesannya udah kayak nggak berguna aja.

Pulang dari bendungan, kita menuju rumah buat makan malam dan rapat. Jadi, selesailah petualangan di hari ketiga ini.

Jan
18

Baru nge-post cerita hari kedua sekarang soalnya semalem nyiapin draft buat blog KKN yang versi resminya. Abis ada kompetisi blog antar desa! Ajaib bener, dah!

Kemarin itu, berhubung hari libur, gue mengusulkan untuk liburan ke pantai! pagi-pagi gue menjelajah ke jalan raya sambil nyari sarapan & info tentang pantai ke “pangkalan”, sebuah tempat persinggahan ELF & bus antar kota. Di sana gue mampir di sebuah warung kecil buat minum kopi, makan pisang molen & sejenis roti goreng manis yang gue lupa namanya.

Berdasarkan info yang gue dapet, ada pantai di daerah Eretan yang bisa dicapai dengan sekali naik ELF ke arah Jakarta. Satu lagi ada pantai di daerah Balongan, yang harus dicapai dengan beberapa kali ganti angkot ke arah Indramayu. Berhubung masih “baru” di sini, gue memutuskan buat ngajak rombongan ke Eretan aja yang gampang ke sananya.

Kita berangkat jam 10 (kalo nggak salah) dengan persiapan lengkap dan setelah terhambat hujan. Awalnya mau berangkat jam 9 soalnya, eh, tahunya hujan lumayan deras. Kita naik ELF dengan kode tempat turun “erla” dan harga Rp 5.000,-. Perjalanannya kira-kira 40 menit (udah termasuk berhenti yang sering banget). Oh iya, yang naek ELF cuman cowok, soalnya yang cewek (ber-12) naek mobil kijangnya Oom Bams! Mobilnya si oom sampai dibilang “pengawal” sama kernet ELF-nya.

Sampai di tempat tujuan (yang cowok nyampe duluan), kita dikejutkan dengan kondisi pantainya. Gue sadar sih kalau pantai utara itu emang nggak bagus-bagus amat, tapi buat gue yang penting ada pasir ama ombak udah cukup. Tapi ternyata, kita masuk lewat jalan kecil dan yang kita dapet adalah ombak yang berdebur ke TEMBOK BATU! Mana pasirnya??!! Gue ngeliat mobil oom bams yang belok ke suatu tempat dan kita untuk memutuskan untuk nyusul ke sana lewat tembok batu, tapi sebelomnya harus nyeberang genangan lumpur dulu! Walhasil, sendal gue berubah jadi bakiak: besar dan berat. Di tembok batu, gue cukup “beruntung” karena dua kali kena deburan ombak. Teman-teman yang lain sih kagak basah, cuman gue!

Ternyata, eh, ternyata, yang disebut pantai “erla” itu cuman “kolam” kecil hasil dari air laut yang masuk lewat tembok batu yang sengaja dipecah. Nama “erla” sendiri diambil dari nama rumah makan di situ yaitu “ikan bakar laut eretan”. “Erla” itu maksudnya “eretan laut”, tapi rumah makannya “laut eretan”. Udahlah, nggak penting. Review tentang restorannnya sendiri bisa dibaca di artikel gue di kategori food!

Akhirnya, di pantai itu cuman gue, alex, lores, sama reza yang main air di “kolam” itu sambil main bola. Sisanya? Makan kelapa muda (atau tua ya? Udah mengeras soalnya) di warung. Abis makan kelapa, kita makan siang di rumah makan itu. Udah kenyang, akhirnya kita pulang naik ELF lagi.

Hari kedua ini isinya cuman main ke pantai dan malemnya ada rapat sih, tapi ngapain ngebahas rapat di blog??! Iseng banget….

Pokoknya, nggak lagi deh maen ke pantai “erla”, tapi kalau buat makan sih OK banget! Next time, kita mau cobain ke pantai Balongan. Abis pantai merupakan tujuan gue milih tempat di Indramayu. Walaupun rada kecewa dengan pantai “erla”, hahaha!

Jan
17

Hari ini rencananya kelompok KKN kita mau main ke pantai. Menurut warga sekitar sih memang pantainya nggak bagus-bagus amat, tapi setidaknya ada pasir dan ombak, that’s fine buat gue. Katanya lagi, pantai yang paling deket itu di Eretan. Ada sih, pantai di daerah Balongan, tapi harus beberapa kali ganti angkot. Akhirnya kita ke pantai di Eretan yang terkenal dengan nama “erla” atau “eretan laut”.

Sampai di “erla”, setelah naek ELF selama +/- 40 menit dan Rp 5.000,-, kita rada kecewa! Soalnya si pantainya itu gak ada pasirnya! Langsung ke laut lepas dan ada lumpurnya. Pokoknya.. TETTOOT..!!! Akhirnya kita memutuskan buat nangkring makan kelapa muda, eh, tua, terus makan siang di rumah makan yang ada di situ.

Rumah makan “Ikan Bakar Laut Eretan” ini sistemnya kayak rumah makan “sederhana” yang ada di Batu Karas sana. Jadi beli ikannya per kilo terus minta dimasakin deh! Ikan yang kita beli itu ada bawal, etong, sama cumi-cumi. Ikan bawal sama etong-nya dibakar terus cuminya di goreng tepung sama saus tiram. Eh, gue pesen cah kangkung juga! Walaupun dikerubungin juga sama anak-anak….

Rasanya? Enyaaaaaakk…!!! :9

Si cumi goreng tepungnya biasa aja, tapi yang menurut gue cukup enak adalah cumi saus tiramnya. Jadi si cuminya juga ikutan digoreng tepung, tapi terus disiram sama sausnya yang enyak! Biasanya kan cuminya ditumis dengan bumbu kalo di kaki lima. Terus di atasnya dikasih kayak serutan wortel dan daun bawang gitu.

Buat ikan bakarnya, yang bawal sama etong itu kayaknya sih sama bumbunya. Pokoknya kayak pake bumbu kuning dulu sebelom dioles kecap pas dibakar. Kita juga dapet sambel sama jeruk nipis buat cocolannya, tapi lebih mantap kalo pake kecap juga.

Yang rada unik lagi adalah cah kangkungnya. Cah kangkungnya sangat berkuah, kental, dan pretelannya banyak banget! Ada sosis, bakso, jamur, sama SEBUTIR telur puyuh. Rasanya agak pedes, tapi enyaaaak..!!

Masalah harga, karena jualnya per kilo, jadi musiman dan nggak menentu stoknya. Tadi sih, cumi itu Rp 60.000,-/ kg tapi kalo dimasak nambah Rp 10.000,-/ kg-nya. Ikan bawal itu Rp 60.000,-/ kg dan ikan etong Rp 35.000,-/ kg. Yang ini karena nggak dimasak (cuman dibakar), jadi nggak ada ongkos masaknya. Cah kangkung itu Rp 15.000,-. Pokoknya tadi karena makan rame-rame, seorang jatohnya cuman bayar Rp 17.000,- aja, udah termasuk nasi Rp 3.500,-.

Overall buat tempat, rasa, dan harga gue kasih nilai 7 dari 10. Rasanya enak, sampe gue ngabisin kepala ikannya! Jarang-jarang gue makan kepala ikan. Finger-licking good! Sayangnya, dari segi tempat agak pas-pasan, jadi kurang mendukung. Walaupun begitu, it’s a good place to eat.

Jan
17

Hari pertama KKN kemaren langsung kebagian tugas buat
pemetaan sosial dari sudut pandang pejabat desa. Gue
kebagian ke RT003/RW001, Desa Sindangkerta, Kecamatan
Lohbener, Indramayu. Gue pergi sama Reza, Reizita, & Andri
yang emang belom sempet bertugas “survey”.

Tempatnya sendiri bisa dibilang unik. Soalnya lokasi RT ini
mencar banget! RT lainnya itu mengikuti pola persebaran
mengikuti jalan raya gitu, tapi RT ini harus lewatin sawah
yang super luas dan letaknya ada di “pulau” gitu. Jalan
menuju ke sananya aja melewati dua desa lainnya, arahan
dan sukasari. Jaraknya dari jalan raya kira-kira 2-3 km
kayaknya. Akses ke dalam selain jalan kaki (tentunya) bisa
naek ojeg seharga Rp 5.000,- buat sekali jalan.

Menurut Pak Darma, ketua RT, desanya punya KK sekitar
100an. Dilihat sekilas sih kayaknya sedikit yang ada di
pinggir jalan, tapi ternyata ada 3 blok yang termasuk dalam
RT ini. Ada yang terpisah sawah sama yang di belakang balai
desa Sukasari. Hasilnya, RT 03 jadi RT dengan KK terbanyak
di Sindangkerta.

Yang khas dari RT ini katanya adalah telur asin. Karena
hampir setiap warga punya bebek buat produksi rumahan.
Yang uniknya (nggak tahu bener apa nggak) masa ada telur
asin dengan rasa STRAWBERRY & NANAS!!! Sumpah, katanya
anak Pak RT, sistemnya kayak proses pengasinan telor biasa,
tapi “ramuan” si sekamnya di kasih rasa-rasa itu. Gue sendiri
sih belom lihat prosesnya, tapi suatu hari kita mau lihat
prosesnya untuk membuktikan apakah benar ada rasa
strawberry & nanas itu??! (A la silet) Menurut Pak RT sih
memang fungsinya bukan buat dimakan langsung, tapi buat
campuran bahan kue, dsb.

Rencananya 10 hari lagi, Pak RT mau ngajak kita buat
sukuran kecil-kecilan sebelom nanem padi. Jadi pas nanem
padinya, kita bisa ikutan!
Yah, nanti d share lagi pengalaman nanem padi di RT 03 ini.
Sampai di artikel lainnya!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.